Ketika telpon berdering diruang praktek terdengar suara panik dibalik telepon, permintaan pertolo-ngan dari ruangan emergency yang memerlukan seorang dokter jiwa, dengan tergesa-gesa ditemani seorang murid tingkat IV segera kita menuju ke rumah sakit. Setelah sampai diruangan emergency, dipojok ruangan terlihat seorang pasien terbaring dengan lemah, dengan tangan yang dibalut kain putih. Sisa-sisa darah masih tercecer diatas pembaringan yang putih bersih.
Setelah pertolongan pertama dilakukan oleh dokter specialis, kemudian dokter tersebut pun sibuk menangani pasien pasien lain. Ketika kucoba membalikkan daftar nama yang tergantung diujung pemba-ringan ternyata ia seorang gadis berusia dua puluhan tahun yang mencoba untuk bunuh diri untuk ketiga kalinya.Yang sangat mempri-hatinkan ialah perem-puan tua (ibunya) yang berdiri diujung pembaringan. Ia adalah orang tua satu-satunya yang menemani kerumah sakit dari pertama kali hingga untuk kesekian kalinya. Dengan wajah keriput serta rambut yang hampir memutih beliau kelihatan sangat lesu dan panik. Dibalik keriputan tercermin ketakutan yang amat sangat. Dengan penuh kekhawatiran yang tak dapat disembunyikan dia memandangi anaknya yang pucat pasi, terbaring dengan lemas. Dia memiliki paras wajah yang manis dengan bulu matanya yang lentik serta tubuh yang tinggi semampai. Dia tidak bergerak sedikitpun, seakan akan tertidur pulas dan bertekad bulat untuk tidak akan siuman kembali kedunia yang fana ini. Setelah selesai mengurusi surat-surat untuk berdiam dirumah sakit, kemudian dia dibawa keiantai tiga tempat pengobatan penyakit syaraf. Hari pertama dan kedua dia masih kelihatan sangat lemah dan tetap mem-bungkam, tidak berbicara sepatah katapun, matanya terpejam 'seakan-akan tertidur dengan nyenyak namun airmatanya kadang-kadang meluncur dari kedua kelopak matanya, jangankan untuk tidur dengan lelap, memejamkan mata barang seke jap pun dia tak dapat.
Setelah ibunya menjelas-kan latar belakang kejadian tersebut, diketahui bahwa putri satu-satunya ini hatinya hancur terluka parah , dan frustasi akibat cinta. Sejak saat itu tawa ria lenyap dari wajahnya, senda gurau tak pernah terdengar lagi makan dan tidurpun enggan dilaku-kan kalau tanpa bujukan mau-pun paksaan. Sejak saat itu dia tidak pernah lagi keluar dari rumah, tidak terkonsentrasi untuk bekerja. hatinya hancur, batinnya terpukul, hidupnya seakan-akan tak berarti lagi, niatnya hanya mencari kematian. Bila lepas dari perhatian orang dirumahnya, dengan berbagai cara ia berusaha untuk bunuh diri. Dengan menelan obat tidur, menggunakan gas serta mengiris pergelangan tangan. Seminggu telah ber-lalu, gadis itu kelihatan telah dapat menerima keadaan di sekeli-lingnya, sapaan dari suster dan dokter ka-dang-kadang dilade-ninya. Pada suatu malam ketika melewati rua-ngan pasien, kulihat ia sedang duduk mela-mun disisi pembaringan sambil memandang keluar jendela. Suasana sunyi sepi, orang-orang disekitar telah tidur dengan lelap dibawa buaian alam mimpi, dengan perlahan ku menyapa : Tidak dapat tidur ? Teringat sesuatu? Dia menoleh dengan sinar mata yang redup, terpancar kebencian dan dendam dari lubuk hatinya, bagaikan tebing yang sangat curam, tak terukur dalamnya. Pancaran sinar rembulan dari celah-celah jendela, semakin mencerminkan suasana yang hening dan sunyi. Dia mencoba untuk membuka muiut namun gagal, sebelum berkata, isak tangis dengan deraian airmata telah membasahi seluruh wajahnya Tenyata pada beberapa bulan yang lalu, dia berkenalan dengan seorang pria yang sedang menjalan-kan tugasnya di kota Malang . Pria tersebut mempunyai pembawaan yang simpatik, pintar bersenda gurau dan berkata manis. dengan berbagai cara dia terus melakukan pendekatan, seakan-akan penuh kesung-guhan. Dia datang menjenguk orang tua si gadis, sehingga meruntuhkan hatinya. Bahkan bila hari libur, ia menginap dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah seperti : mengganti kawat jendela, membersihkan alat penghisap dapur, dan Iain-lain, tanpa sungkan-sungkan, pria itu dengan cepat memperoleh kepercayaan dan mendapat kesan yang sangat baik, sehingga dia telah dianggap sebagai salah satu anggota keluarga. Munculnya pria tersebut membawa kebahagiaan yang sebelumnya tidak pemah ada didalam hidupnya. Dua irisan itu telah dimabuk asmara , hingga pada suatu hari terjadi hubungan diantara mereka, janji-janji muluk serta khayalan-khayalan tentang masa depan penuh romantis dan alamiah, wanita itu menerima semua yang terjadi pada dirinya, yang tanpa disadari telah menjeratnya secara perlahan-lahan.
Setelah selesai tugasnya di kota Malang , pria tersebut kembali pulang ke Jakarta . Gadis itu, melewati hari-hari berikutnya dengan hampa, tanpa berita apapun, baik berupa telepon maupun surat , dia lenyap begitu saja, seperti tenggelamnya batu di dasar laut. Pada mulanya dikira pekerjaan yang banyak di Ibukota sehingga dia tidak sempat untuk memberikan kabar, namun lama kelamaan dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, maka dengan segera dia mengambil kepu-tusan untuk menyusul ke Jakarta . Setibanya disana, dia disambut dengan jawaban yang mengagetkan bagaikan sambaran petir di siang bolong. Pria itu berkata; "Janganlah engkau besikap bodoh, hubungan kita hanyalah suatu sandiwara belaka!" Sebenarnya dia tidak pernah mencintai si gadis, terlebih lagi untuk menjadi-kannya sebagai istri. Dia anak orang kaya, apapun yang diinginkannya selalu dikabulkan, begitu pula dengan wanita. Banyak wanita yang berjejer menunggu perha-tiannya. Dengan santai pria tesebut mengeluarkan album dari bawah meja dimana dalam album tersebut didalamnya tepangpang foto-foto wanita cantik dan dengan bangga dia berkata:' "Sebe-lumnya mereka juga seperti kau, menangis tersedu-sedu ketika kutinggal, bahkan ada yang berkata tak dapat hidup tanpa aku disisinya, mereka ingin bunuh diri, namun kini mereka baik-baik saja, ada pula yang sudah menikah. Dengan penuh permo-honan dan tangisan dia meminta tanggung jawab si pria namun yang didapati hanyalah harga diri yang terinjak-injak, Terakhir dia memohon kepada ayah pria itu, yang kemudian bersedia mene-muinya disuatu hotel. Ketika mereka bertemu, bahkan ayahnya itu mencoba menggoda wanita tersebut, namun sempat dia lolos dari perangkap buaya daratan.
Sejak itu, hatinya hancur lebur bagaikan debu, kepercayaannya terhadap manusia sirna tidak berbekas, bahkan kepercayaannya terhadap moral etik manusia telah lenyap, tidak tersimpan sedikitpun jua bagaikan ditelan oleh kegelapan sinar dimalam hari. Sisa harapan satu-satunya ialah pulang ke rumah, tetapi tiba dirumah yang didapati hanya sisa bayang-bayang kehar-monisan masa lalu disetiap seluk beluk rumah, bayang-bayang masa lalu yang semakin menusuk hati yang tak berdaya. Cintaku yang begitu tulus dan pengorbanan yang tiada batas, tak disangka hanya dibalas dengan goresan kepiluan, setelah ucapannya selesai kembali deraian tangis membasahi seluruh wajahnya. Sebenarnya cintamu terhadap pria tersebut 100 % egois. Kututurkan dengan penuh keharuan. Dengan keheranan dia mendelikkan bola matanya yang besar dan berair, karena selama ini dia percaya bahwa pengor-banannya selama ini sangat mulia dan suci tanpa sedikitpun terbesit untuk meminta dan menuntut. Tetapi pada dasarnya cinta selalu didasari oleh sifat keakuan dan syarat-syarat tertentu, kita memberikan pengorbanan tak lain ingin memperoleh balasan yang sama besarnya dari pengor-banan yang kita berikan. Tiada cinta yang tulus kecuali cinta kasih agama (Maitri). Cinta antar manusia yang satu dengan yang lain, kadang-kadang didasari syarat-syarat seperti; kedudukan, nama, pendi-dikan, pekerjaan dan lain sebagainya. Demikian pula Panca Skandha yang terdapat didalam diri kita yang selalu mencari dan memenuhi keinginan duniawi, dimana setiap saat selalu berubah tidak menentu, tidak ada satupun yang dapat tetap berlangsung terus menerus tanpa perubahan. Begitu pula dengan cinta yang penuh kemisteriusan, ia akan sirna dengan cepat, cinta yang sepantasnya jauh lebih berharga bila dapat dipupuk sehari demi sehari dengan saling menghargai dan memperhatikan hingga dihari tua.
Setelah dua hari berlalu, ia diizinkan untuk pulang kembali kerumah. Keada-annya telah jauh berubah dan telah mendekati keadaan normal. Cinta adalah suatu kata yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan didunia ini dan kata cinta itu sendiri mempunyai makna yang sangat luas khususnya dalam agama Buddha Mahayana, mencintai makhluk tanpa terkecuali, cinta juga jangan dipandang sebagai dosa karena syarat dalam kehidupan yang harmonis harus mempunyai cinta, cinta jangan diarahkan kearah membenci, cinta itu bisa diibaratkan sebuah permata yang menempel diroda pedati, dimana posisi pertama itu kadang diatas dan kadang dibawah demikian lah cinta kadang bisa membawa kita ke alam kebahagiaan dan kadang malah yang pasti lebih sering membawa kita kearah penderitaan yang berlarut-larut, itulah cinta buta antar individu yang sangat berlainan dengan cinta Bodhisattva yang selalu mengembangkan cinta kasih terhadap semua makhluk tanpa terkecuali. Dan kita harus mencintai sesama manusia terutama didiklah diri kita sendiri dan cintailah keluarga kita dan dari keluarga kita sampai kerelasi dan meluas kemasyarakat dan memupuk welas asih ke semua makhluk yang bernyawa. Ini adalah yang diajarkan oleh Hyang Buddha tentang Delapan Jalan Utama yang paling diutamakan yaitu cinta pandangan benar. Kita harus mengembangkan terus cinta kita kearah maitri karuna dan mengembangkan sifat Bodhi-sattvayana serta mempelajari semangat para Bodhisattva yaitu tidak mementingkan diri sendiri, kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan diri kita. Semangat cinta Bodhi-sattva harus dikembangkan, bila kita bisa memupuk semangat cinta Bodhisattva maka bisa tercapai cinta yang abadi.
Hidup memang identik dengan penderitaan, segala sesuatu yang ada didunia ini memang tidak kekal (anitya) selalu berubah-ubah. Untuk itu barang siapa yang ada didunia ini, yang mengenal, mengerti, serta senantiasa menyelami ajaran Sang buddha tentang lobha, dosa dan moha, maka ia tidak akan terlalu melekat dan terikat pada apa yang ada didunia ini. Melepas keterikatan dan kemelekatan bukanlah suatu yang mudah namun hal itu bukanlah suatu hal yang tidak mungkin, seperti disebutkan dalam kitab Dhammapada Bab XVI ayat 210; "Janganlah melekat pada apa yang dicintai dan tidak dicintai. Tidak bertemu dengan yang dicintai dan bertemu dengan yang dicintai, keduanya merupakan penderitaan.