Bunuh Diri ≠ Bebas Dari Penderitaan

 

Apabila manusia terbentur persoalan atau ditimpa musibah, stress yang berlebihan, dan mengalami frustasi, maka dalam waktu singkat akan berpikiran sempit yaitu "mati". bahkan ada yang benar-benar mengambil tindakan jalan pintas dengan bunuh diri. Bila stress yang dialami melebihi kemampuan daya tahan seseorang, akan menimbulkan kegelisahan, murung, kecewa, patah semangat, putus asa, marah, susah, sedih, takut, malu, dan lain sebagainya. Semua keputusan akan berkecamuk dalam pikiran. Semua perasaan akan tersumbat dalam hati sanubari, tidak mampu berpikiran jernih maupun bersikap tenang, pada waktu mengalami hal tersebut sebaiknya jangan mengambil tindakan apa-apa. Banyak yang mengira bahwa untuk melepaskan diri dari perasaan kecewa, malu terhadap keluarga maupun masyarakat adalah dengan melakukan bunuh diri. Dengan bunuh diri dianggap telah benar-benar menyelesaikan masalah, bebas dari segala tanggung jawab dan aib. Lalu timbul pertanyaan, apakah benar dengan bunuh diri berarti dapat terbebas dari penderitaan ?

Bila dilihat dari undang-undang, ada kematian yang berarti mengalihkan beban dan tanggung jawab kepada orang lain, antara lain mati sebagai patriot atau mati untuk menolong orang lain dan mati karena bunuh diri. Dengan alasan bunuh diri maka semua penderitaan keluh kesah, dan tanggung jawab beralih ke masyarakat. Oleh karena itu bunuh diri dapat menimbulkan beban bagi orang lain dan merupakan perbuatan melanggar hukum. Bila dipandang dari ajaran Dharma, bunuh diri merupakan karama buruk dan dengan bunuh diri juga berarti telah membunuh sifat keBuddhaan yang ada dan yang akan berkembang dalam dirinya sendiri. Bunuh diri bukan berarti menghapus karma melainkan akan menambah karma buruk. Dalam kehidupan selanjutnya pasti akan mengalami kelahiran terus menerus, terlahir di alam neraka, alam setan kelaparan, alam binatang, alam hantu penasaran dan kemungkinan kecil akan terlahir di alam manusia.

Perlu ditegaskan bahwa dengan bunuh diri sama sekali tidak berarti telah terbebas dari penderitaan. Bahkan dialam lainpun masih harus menerima karma buruk. Kemudian, apakah yang dimaksud dengan benar-benar bebas ? Menurut pengalaman psikiater, seseorang sampai bunuh diri dikarenakan pukulan-pukulan yang datang bertubi-tubi serta masalah yang berlarut-larut dan dipendam terus tanpa dapat dipecahkan ditambah pula dengan tidak adanya dorongan, saran ,maupun inisiatif dari keluarga dan teman dekat. Pada saat itu dorongan dari keluarga dan teman dekat sangat penting dan dibutuhkan. Selain itu. Untuk meringakan stress perlu kiranya mengikuti kegiatan yang positif, organisasi keagamaan, dan lain-lain, sehingga dapat memperoleh dorongan spiritual dan dapat menjaga keseimbangan dalam menghadapi goncangan batin. Goncangan batin itu sendiri dapat membawa dampak sampingan pada jiwa misalnya selalu murung, risau, gelisah, dan mungkin menjadi gila serta dapat juga membawa dampak sampingan pada anatomi yaitu timbulnya penyakit maag, pernafasan tidak lancar, pencernaan tidak normal, dan penyakit jantung.

Sebelum dapat membina pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab terutama dalam masyarakat, perlu juga ditumbuhkan rasa sensitif dalam menghadapi perubahan perkembangan tumbuh dan pikiran yang tidak wajar. Dan seharusnya juga harus bisa mengatakan atau mengendalikan perasaan yang tergoncang ataupun yang tidak wajar sehingga ketika menghadapi stress yang seberat apapun, dapat ditanggulangi. Persoalan besar dapat dipecahkan menjadi persoalan kecil, dari kecil menjadi habis. Seseorang yang berkepribadian dewasa, yang berpikiran matang dalam mengambil tindakan akan senantiasa lebih tenang dan bijaksana, keakuannya berkurang dan dalam segala hal tidak diutamakan untuk dirinya sendiri. Begitupun dalam pergaulan, dalam kehidupan bersama dengan orang lain, bentrokan akan berkurang, benturan batin dalam diri sendiripun berkurang karena dia dapat berpikir dipihak orang lain serta senantiasa tidak meminta dan menghitung, tidak serakah, tidak bodoh, dan penuh dengan pengertian. Dengan sendirinya kehidupan akan bahagia, tidak ada masalah yang akan merumitkannya dan senantiasa terbebas dari persoalan yang tidak perlu. Setiap hari baik bagi dirinya, untuk mati saja enggan, bagaimana mungkin bisa berpikiran untuk bunuh diri! Kita mengetahui bahwa hidup adalah Dukkha (penderitaaan), seperti lahir, tua, sakit, dan mati serta penderitaan-penderitaan lainya yang dikendalikan oleh 3 akar kejahatan (lobha, dosa, moha) dan keinginan-keinginan Panca Indria seperti pengecapan, rasa, kehendak, dan lainya. Penderitaan ini disebabkan oleh sebab akibat dari karma masa lalu dan sebab akibat, di mana syarat-syarat yang memenuhi timbul maka akan timbul dan syarat-syarat yang memenuhi musnah maka akan musnah.

Ketika meghadapi musibah atau pukulan harus dicari jalan keluarnya, jangan dibiarkan berlarut-larut. Apabila benar-benar mengerti Dharma, maka kita akan mengetahui bahwa semua ini tidak kekal, Aku ini tidak kekal. Selain itu kita juga akan mengerti tentang arti dari Sunya termasuk 3 akar kejahatan (Lobha,Dosa,Moha) Dan Panca Indria. Berpikiran optimis dengan menjalankan 3 akar kebajikan (Sila,Samadhi, dan Prajna), bersikap welas asih, berdana, menambah kebajikan, hal ini bukan hanya berarti tidak berbuat kejahatan bahkan dijadikan contoh. Seseorang harus mampu mengendalikan pikiran risau menjadi pikiran yang berbuah Bodhi Citta. Ini merupakan pikiran optimis seorang penganut agama buddha. Sebaliknya bagi orang yang bodoh dan berpikiran pesimis, ia akan menekan segala perasaan dan melimpahkan kesalahan pada diri sendiri yang akhirnya akan berbuat nekad dengan melakukan bunuh diri, yang berarti melanggar hukum alam dan hukum karma. Karma yang akan diperbuat akan tetap dipikul dan tidak mungkin luput dari penderitaan.

Lalu bagaimana supaya bisa luput dari penderitaaan ? Jalan satu-satunya ialah dengan berpedoman pada ajaran Sang Buddha yaitu menjalankan Sila, menjalakan Vinaya, mempelajari Sutra, menjalankan Boddhisattvayana serta senantiasa berdana dan melakukan kebajikan. Melakukan semua itu dengan penuh kesabaran, tekun dan bersemangat, melaksanakan meditasi, dan memupuk kebijaksanaan sehingga dapat menuju ke pantai bahagia serta memperoleh kebijaksanaan tertinggi dan mencapai nirwana.Di dalam sutra maupun psikolog, telah dibuktikan bahwa perasaan seperti takut, bodoh, iri hati, benci dan lainya merupakan sebab utama dari semuanya ini dan apabila menghadapi masalah, kita dapat mengarahkannya pada kenyataan bahwa semua ini adalah bagian dari kehidupan yang berasal dari karma buruk yang telah dilakukan, menyesal dan bersujud dihadapan Sang Buddha, merenungi dan menghindari segala karma buruk yang telah maupun yang akan dilakukan untuk merubah penderitaan menjadi bibit Boddhicitta serta merelakan diri di jalan kebajikan. Dengan demikian seluruh alam semesta serta bunga-bunga akan ikut berseri dan bersemarak.
Bunuh diri yang berarti memusnahkan badan jasmani tidak berarti memusnahkan jiwa dan roh (penelitian ini telah diakui dalam dunia kedokteran dan dunia teknologi). Untuk itu, mulai detik ini pertama-tama harus menghapus pikiran yang menghanyutkan, karena pikiran adalah pelopor dari segala tindakan. Dengan berpikiran jahat berarti telah memikul karma buruk. Untuk menjaga pikiran yang benar adalah dengan meditasi sehingga dapat memperoleh kedamaian dan kebijaksanaan. Seperti yang terdapat dalam Vajra cchedika - prajna paramita sutra, yang berbunyi :
"Tubuh ibarat busa............. Dalam masa sekarang yang sesingkat
ini, giat membina kebijaksanaan serta cinta kasih yang tertinggi, akan menyinari alam semesta serta lepas dari rasa takut, risau, mimpi buruk, kebodohan, takut akan kematian, dan kelalaian dcngan kemuliaannya yang tidak terpaut oleh waktu dan ruang sehingga memperoleh kebebasan yang kekal. Inilah yang disebut kebebasan yang benar-benar luput dari penderitaan".