Pada zaman dahulu kala hiduplah seekor kera raksasa di tengah pegunungan Himalaya . Kera raksasa ini menguasai lebih dari delapan puluh ribu kera-kera lain. Binatang- binatang ini turut pada perintahnya dan menganggapnya sebagai raja mereka; bukan saja karena badannya yang besar dan tegap tetapi juga karena hatinya yang baik dan otaknya yang cerdas. Kera-kera ini hidup dengan bahagia dalam sebuah lembah indah yang membentang di antara bukit hijau. Di situ mengalir sungai Gangga dengan airnya yamg jernih dan di pinggir tebing sungai yang terjal itu tumbuhlah sebatang pohon besar. Beberapa dahannya yang berdaun lebat berjuntai diatas air sungai Gangga yang mengalir di bawahnya . Pada musim semi dahan-dahan pohon itu penuh dengan bunga-bunga putih. Beberapa bulan berikutnya bunga-bunga wangi itu akan menjadi buah-buah berkulit kuning keemas-emasan yang amat manis rasanya, seakan-akan buah-buah itu dicelup dalam madu. Ribuan kera tadi hidup diantara daun-daun pohon besar tersebut.
Mereka memakan buah-buahnya yang lejat dan bermain-main kejar-kejaran dengan gembira diatas dahan-dahannya atau istirahat di bawah batangnya yang besar dan teduh. Atas nasehat raja mereka, kera-kera tersebut memetik setiap bunga yang tumbuh diatas dahan-dahan yang berjuntai diatas air supaya bunga-bunga itu tidak tumbuh menjadi buah. Dan jika ada bunga yang tumbuh, dengan segara buah itu dipetik, meskipun masih kecil dan hijau. “Janganlah sampai satu buahpun jatuh ke dalam air.” Demikian nasehat raja kera. “ Karena arus air akan membawa buah itu ke kota . Orang yang menemukannya akan memakannya, lalu dia dan teman-temannya akan mencari pohon dari buah yang demikian manisnya. Jika menemukan pohon ini mereka akan mengusir kita dari tempat kediaman kita, karena mereka sendiri akan ingin memiliki pohon ini.” Bertahun-tahun kera-kera itu mematuhi pesan rajanya. Tetapi pada suatu ketika satu buah tumbuh dibawah sarang semut dan oleh karena itu tidak terlijat oleh kawan-kawan kera. Ketika buah itu masak, jatuhlah ia ke dalam air dan arus sungai Gangga membawanya ke daerah hilir.Buah itu terapung-apung dibawa arus sungai sampai di kota Benares . Pada hari itu kebetulan raja Brahmadatta sedang mandi di sungai Gangga bersama beberapa pengikutnya. Salah seorang diantara mereka melihat buah yang terapung-apung itu dan mengambilnya dari air. Dia mempersembahkan buah yang kuning keemas-emasan itu kepada Raja Brahmadatta. Raja Brahmadatta belum pernah melihat buah yang sedemikian indahnya kulitnya dan segitu manis rasanya. ‘ Buah apa ini?” tanyanya kepada pengikutnya. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka mengetahui nama buah itu. Lalu raja bertanya kepada nelayan-nelayan yang sedang memancing ikan di pinggir sungai. Tetapi merekapun belum pernah melihat buah macam itu. Pada akhirnya ada seorang penebang kayu yang mengetahui asal-usul buah aneh tersebut. “Buah itu buah mangga. Di hulu sungai orang dapa menemukan pohon-pohon mangga. Disana hawanya jernih dan sinar matahari tidak tertutup awan. Di dunia ini tidak ada buah yang lebih lezat dari dari pada buah mangga. Saya kira pohon yang membuahkan mangga ini tumbuh di pinggir sungai Gangga dan buah mangga ini jatuh ke dalam air.” Raja Brahmadatta yang telah merasakan betapa manis dan lezatnya buah mangga itu ingin sekali menemukan pohonnya. Dengan segera beliau memerintahkan supaya dipersiapkan sebuah kapal yang dapat berlayar ke hulu sungai Gangga untuk mencari pohon mangga yang berbuah manis itu. Berminggu-minggu raja Brahmadatta dan pengikut-pengikutnya berlayar di sungai Gamgga. Mereka melewati ladang-ladang dan kebun-kebun yang membentang di kedua tepi sungai Gangga yang lebar dan pada akhirnya sampailah mereka di pegunungan Himalaya . Dan pada suatu pagi mereka melihat sebuah pohon besar dengan daunnya yang hijau berkilauan di bawah sinar matahari, tumbuh di pinggir tebing sungai yang terjal. Diantara daun-daun hijau itu bergantunglah berpuluh-puluh buah mangga yang kuning keemas-emasan. Itulah pohon mangga yang mereka cari! Tapi siapa makhluk-makhluk yang berkejar-kejaran diatas dahan-dahan dan diantara dedaunan pohon itu? Mereka adalah kera-kera yang menghuni pohon itu. “eh, kurang ajar! Kera-kera itu memakan buah manggaku!” seru raja Brahmadatta, ketika Beliau melihat kera-kera dengan enaknya memetik mangga dan memakan buah itu. “Kepung pohon itu supaya mereka tidak dapat melarikan diri. Besok kita akan membunuh mereka dan kita akan berpesta daging kera baker dengan mangga manis.”
Menangislah kera-kera itu mendengar kata-kata raja Brahmana. Mereka menghadap raja mereka dan mengeluh: “ Bukan salah kita kalau sebuah mangga telah jatuh ke dalam air sungai dan mengalir ke hilir. Besok kita semua mati dimakan raja serakah dan pengikut-pengikutnya. Jarak diantara pohon ini dengan pohon lain yang terdekat terlalu besar, sehingga kita tidak mungkin meloncat dari satu pohon ke pohon lain. Dan dibawah pohon orang-orang bersenjata tajam menunggu kita! Alangkah malangnya kita semua!” Jangan menangis anak-anakku, “kata raja kera yang bijaksana. Dengarlah pesanku baik-baik. Aku akan menolongmu.” Dengan cepat raja kera memanjat pohon mangga sampai dia tiba di pucuk pohom. Dari situ dia tumbuh semacam alang-alang yang amat panjang dan disambungnya alanh-alanh menjadi tali yang panjang. Lalu dia memanjat pohon yang tumbuhdi muka pohon mangganya. Satu pucuk dari alang-alang itu diikatnya pada sebuah pohon yang telah dipanjatnya dan pucuk yang lain diikatnya pada kakinya. Lalu meloncatlah dia kembali ke pohonnya sendiri. Rencananya adalah mengikat pucuk alang-alang yang satu lagi ke sebuah dahan pohon mangga, sehingga alang-alang dapat dijadikan jembatan untuk kera-kera lain. Tetapi celakalah! Alang-alang kurang panjang sedikit. Raja kera bergantung dengan satu tangan dan dibelakangnya membentang jembatan alang-alang. “ Mari anak-anakku!” serunya. “cepat berjalan diatas punggungku dan sebrangilah je,batan alang-alang. Cepat!”
Satu per satu kera itu berjalan dengan hati-hati diatas tubuh raja mereka dan menyebrangi jembatan alang-alang. Tapi diantara kera-kera tersebut ada seekor yang ceroboh. Karena takut ketinggalan dia meloncat ke atas tubuh raja kera. Raja kera merasakan sakit luar biasa pada tulang punggungnya yang telah diinjak kera senonok itu. Dengan menahan rasa nyeri bukan kepalang yang nerasuk seluruh tubuhnya dia tetap bergantung pada dahan pohon mangga. Ketika kera terakhir smpai di sebrang dengan selamat, raja kera melepaskan tangannya dan tubuhnya jatuh di tanah di bawah pohon mangga. Di bawah pohon raja Bramadatta melihat semua yang terjadi. Hatinya tergerak oleh keagungan hati raja kera yang telah mengorbankan nyawanya untuk menolong kera-kera lain. Dengan hati- hati raja menghampiri raja kera yang terbaring di bawah pohon mangga. “ Mengapa kau berbuat demikian. Apa kau tidak tahu bahwa perbuatanmu itu akan membinasakan sendiri?”beliau bertanya Raja kera membuka matanya perlahan-lahan lalu dia berkata: “Raja Brahmadatta, aku adalah raja kera. Sebagai pemimpin mereka aku dihormati dan perintah- perintahku diturutinya. Pada waktu ada bahaya adalah kewajibanku sebagai pemimpin untuj menyelamatkan bangsaku. Aku mencintai kera-kera itu. Karena pengorbananku mereka sekaramg selamat. Aku tidak menyesal, Raja Brahmadatta, seorang raja lebih baik memerintah dengan kasih ayang dari pada dengan kekerasan. Anggaplah pengikut-pengikutmu sebagai anak-anakmu sendiri dan bukam sebagai bawahan belaka.” Setelah mengucapkan kata-kata itu dia memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya yang terakhir.
Raja Brahmadatta amat terharu, Beliau memerintahkan supaya tubuh raja kera disirami air wangi, dibungkus dengan kain sutra dan dibakar dengan upacara resmi. Kemudian abunya dikubur dibawah pohon mangga dan diatas kuburan itu raja Brahmadatta membangun sebuah candi mungil dari batu pualam yang putih. Supaya pesan raja keara tidak akan dilupakan, kata-katanya yang terakhir dipahat diatas pintu candi tersebut.” Sejak itu raja Brahmadatta memerintah dengan kasih saying atas penduduk kerajaannya. Di bawah pemerintahannya berkembang dan penduduknya bahagia.