Bodhisattva samantabhadra ingin menguji sampai di mana keikhlasan Raja Sa Ho Than memberikan sedekah. Raja dan permaisurinya bahkan bersedia menjadi pelayan. Walaupun mereka menemui tidak sedikit penderitaan, namun mereka tidak pernah mengeluh atau mendendam.
Pada masa kehidupan yang lalu, Sakyamuni Buddha pernah hidup sebagai seorang raja yang gemar memberi sedekah. Raja itu bernama Sa Ho Than, yang berarti "Pemberi Segala". Setiap orang yang datang meminta sesuatu atau memohon bantuan, Raja selalu berusaha memenuhinya. Karena kemurahan hatinya inilah, nama Raja Sa Ho Than sangat terkenal. Suatu ketika, Bodhisattva Samantabhadra menyamar sebagai seorang Brahmana muda yang datang dari negeri seberang untuk mengunjungi Raja Sa Ho Than. Setibanyadi muka gerbang istana, Bodhisattva Samantabhadra berkata pada pengawai istana, "Saya datang dari tempat yang jauh untuk menemui raja". Sang pengawai segera menyampaikan berita kedatangan seorang Brahmana kepada Raja. Raja sangat gembira mendengar berita tersebut. Beliau segera berjalan menuju gerbang istana menyambut sang Brahmana , seperti layaknya seorang anak yang sedang menyambut ayah kandungnya. Raja memberi hormat kepadanya dan mempersilahkan masuk, lalu Raja bertanya, "Wahai Brahmana dari mana anda datang ? Perjalanan panjang yang melelahkan kiranya!". Brahmana menjawab, "Saya datang dari negeri yang jauh untuk bertemu Baginda Raja". "Baiklah apa yang anda inginkan, janganlah bimbang atau ragu, katakanlah terus terang, nama saya sendiri bermakna pemberi segala, apapun yang anda minta akan saya usahakan, sesungguhnya apa yang anda inginkan?", tanya raja kepada Brahmana. Brahmanapun menjawab, "Saya tidak menginginkan segala emas dan harta, saya hanya ingin Baginda menjadi pelayan saya, dan permaisuri pembantu saya,. Jika anda bersedia maka anda harus mengikuti saya". Raja Sa Ho Than Iangsung menjawab dengan senang hati, "Baiklah. Tubuh saya adalah milik saya, saya bersedia mengikuti dan mematuhi kehendak Brahmana. Namun istri saya adalah putri raja, saya harus menanyakan kepadanya apakah dia juga bersedia menjadi pelayan". Raja segera masuk ke istana untuk memberi tahu sang istri, " Ada seorang Brahmana muda yang tampan, meminta saya menjadi pelayannya dan juga kamu menjadi pembantunya , apa yang harus kita lakukan ?" Permaisuri berkata, "Bagai-mana Baginda menjawabnya ?" "Saya telah menyetujuinya, tapi belum memberi jawaban atas kesediaan kamu dalam hal ini ", jawab Raja. Setelah mendengar kata-kata suaminya itu, berkatalah sang istri, "Apakah baginda akan meninggalkan saya begitu saja untuk mencari keuntungan sendiri, mengapa tidak segera menyetujui saja semua permohonan Brahmana"
Demikianlah sang permaisuri mengikuti Raja untuk menemui Brahmana dan berkata, "Saya bersedia menjadi pelayan dan mematuhi perintah Brahmana". Sekali lagi Brahmana berkata kepada Raja, "Apakah kalian bersungguh-sungguh? Saya akan segera berangkat!". Rajapun segera menjawab, "Selama hidupku tak pernah menyesali sedekah yang saya berikan. Saya bersedia mengikuti anda." Brahmana berkata, "Baiklah, kalau begitu kalian harus mengikuti kebiasaan saya, berjalan kaki tanpa memakai alas. Dan kalian harus mematuhi peraturan sebagai pelayan, serta tidak boleh memakai perhiasan apapun juga". Karena raja dan permaisuri telah bersedia menjadi pelayan, serta bersedia mematuhi segala peraturan Brahmana, maka berangkatlah mereka mengikuti perjalanan Sang Brahmana. Sementara itu pada saat yang bersamaan Bodhisattva Samantabhadra secara diam-diam menjadi raja dan permaisuri yang senantiasa tetap memerintah di istananya. Sang permaisuri adalah putri raja yang cantik dan lemah lembut. Sejak kecil ia dibesarkan di dalam istana yang mewah dan hidup berkecukupan, tidak pernah mengalami kesusahan dan penderitaan sedikitpun. Lagi pula saat ini, permaisuri sedang mengandung. Tanpa memakai alas kaki, dan mengikuti terus perjalanan Brahmana. Brahmana melihatnya dan memarahinya, "Sekarang kamu adalah pelayan, harus menuruti peraturan sebagai pelayan, janganlah bersikap seperti seorang puteri!" Permaisuri berlutut dan berkata, "Saya tidak berani bersikap begitu hanya saya sangat lelah, ingin beristirahat sebentar." Brahmana tidak mau ahu, malah membentaknya, “Ayo cepat, jalan dibelakang saya!" Setibanya Brahmana di kota lain, ia menjual kedua pelayan itu, sehingga raja dan permaisuri harus mengikuti majikan barunya masing-masing yang tinggal berjauhan. Raja disuruh majikannya, menjaga rumah dan menagih pajak. la dilarang keluar tanpa seijin majikannya. Sedangkan istri majikan sang permaisuri iri hati melihat kecantikan wajah permaisuri. Karena itu malanglah nasibnya, ia disuruh bekerja siang dan malam, tanpa henti. Beberapa lama kemudian, permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki. Istri majikan sangat marah dan berkata, "Kamu adalah pelayan, dari mana datangnya bayi ini? Ia harus dibunuh!" Maka bayi yang malang itupun meninggal. Dengan kesedihan yang dalam permaisuri pergi untuk mengubur puteranya, diam-diam dia menemui suaminya. Diberi-tahukannya pada Sang Raja bahwa ia telah melahirkan seorang bayi laki-laki, dan telah meninggal hari ini. Namun ia tak punya biaya untuk menguburnya. Raja berkata:" Majikan saya sangat keras, jika ia tahu akan hal ini, maka saya akan dipersalahkan. Lebih baik bawalah bayi itu untuk mencari pertolongan ke tempat lain, jangan tinggal terlalu lama disini.
Walaupun raja dan permaisuri sudah lama tidak ber temu mereka tidak saling menceritakan penderitaan yang dialaminya. Mereka menghadapi kenyataan ini dengan , sedikitpun tidak memendam perasaan benci. Pada saat Raja dan permaisuri sedang asyik mengobrol perlahan-lahan dan samar-samar seperti dalam mimpi mereka kembali berada di istana. Raja duduk di singgasanannya lagi seperti sediakala. Keadaan istana sedikitpun tidak berbeda, petugas istana dan pelayan istana juga tidak berganti. Nampak pula putra mahkota yang ternyata masih Raja dan permaisuri terheran-heran melihat segalanya apa gerangan yang telah terjadi? Ketika itu Bodhisattva Samantabhadra menampakkan dirinya dari dalam yang ditumbuhi tujuh kuntum bunga teratai dan berkata, "Sangat baik Kalian benar-benar memberi sedekah dengan segala keikhlasan hati." Raja dan permaisuri sangat berbahagia membungkuk untuk memberi hormat kepada Bodhisattva Sa m antabhadra.
Lalu Bodhisattva Samantabhadra mengajarkan Dharma,keseluruh penjuru hingga mereka mengerti Dharma. Sakyamuni Buddha berkata "Raja Sa Ho Than adalah masa lalu Pangeran Sidharta, istri raja adalah Yasodhara, sedangkan putra mahkota adalah Rahula.
|
|