Sikap Memaafkan Dan Kesabaran Yang Sungguh Mengagumkan

 

Dunia ini penuh dengan manusia yang baik dan jahat. bagi manusia yang jahat, hatinya selalu diliputi oleh belenggu kejahatan seperti :Kemarahan , keegoisan, ataupun khaya-lan-khayalan yang tak terkendali. Selain itu mereka juga selalu melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Untuk hal tersebut, Sang Buddha telah mengajarkan kita agar selalu memaafkan segala kesalahan yang diperbuat orang lain pada diri kita dan memper-lihatkan cinta kasih serta kasih sayang yang kita miliki kepada mereka. Sebaliknya, bagi manusia yang baik, ia akan selalu akan mempunyai sikap memaaf-kan, selalu mengendalikan dirinya, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki kesala-hannya. Dengan "balas dendam",

 KEBENCIAN TIDAK AKAN BERAKHIR JIKA DIBALAS DENGAN KE BENCIAN, KEBENCIAN AKAN BERAKHIR JIKA DIBALAS DENGAN CIN TA KASIH, KASIH SA YANG, KESABARAN TENGGANG RASA, SIKAP MEMAAFKAN SERTA KESABARAN.

Manusia yang baik merupakan Bodhisattva yang nyata. Mereka tidak hanya mempunyai dan memperhatikan sikap yang tabah dalam menghadapai kejahatan yang dilakukan terhadapnya, namun mereka juga tabah dalam meng-hadapi kelaparan, kehausan, kedinginan, kepanansan, angin, maupun cuaca buruk sekalipun. Selain itu, mereka tahan menghadapai sejumlah pekerjaan, kejenuhan, kesulitan-kesulitan serta kemiskinan. Walau-pun mereka mengalami semua hal tersebut, mereka tetap bahagia dan gembira. Manusia yang baik, selalu nemecahkan dan meng-hadapi semua penderitaan dengan tenang dan penuh kegembiraan. Mereka sadar akan ketidak kekalan, mereka juga tekun mempelajari dasar-dasar keagamaan dan beru-saha menyebarkannya kepada orang lain. Mereka tidak pernah berkecil hati atau depresi menghadapi penderitaan dan kesengsaraan yang bertubi-tubi, dan tidak pernah putus asa dalam melakukan kebajikan. Pelajaran yang baik dan tinggi dari kemurahan hati dan cinta kasih ini dapat kita lihat dalam cerita tentang Pangeran Kunala berikut ini, yang merupakan kasih nyata pada zaman sang Buddha. Raja Asoka ( Circa 250 BC) mempunyai seorang putera yang bernama Dharmavardana. la memiliki mata yang sangat indah seperti burung yang berdiam dipuncak Himalaya , sehingga ia dipanggil dengan nama Kunala. Ia hidup jauh dari kesibukan istana, dan melakukan meditasi dengan tekun. Ketika dewasa, ibu tirinya. Tistarakita tertarik melihat ketampanannya.

Pangeran Kunala menase-hatinya, menolak semua permintaannya dan tidak mengindahkan kemarahannya. Hal ini membuat ibu tirinya sangat marah dan benci, ia bertekad untuk menghancur-kannya. Ketika Ratu sedang mempersiapkannya rencana balas dendamnya, Kunala dikirim oleh Raja ke propinsi Taksasila untuk mengatasi pemberontakan rakyat disana. Kunala berhasil memerintah-kan Taksasila dengan sukses dan iapun menjadi Gebernur dan sangat terkenal. Beberapa waktu kemudian, Raja Asoka jatuh sakit dan Tisyaraksita, isterinya tercinta yang merawatnya hingga sembuh. Untuk itu, Tisyaraksita memohon kepada Raja Asoka agar diijinkan untuk meme-rintah kerajaan selama seminggu, sebagai imbalan atas semua pengabdian kepada Raja selama sedang sakit keras dan Rajapun memenuhi permintaan tersebut untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada Tisyaraksita. Setelah Ratu mendapat kesempatan tersebut, atas nama Raja Asoka, segera ia memerintah rakyat Taksasila untuk mengeluarkan kedua mata Kunala. Ketika perintah itu datang, tidak seorang pun yang mau melaksanakannya, namun Kunala sendiri dengan senang hati menerima perintah tersebut. Hal ini dilakukannya karena Kunala mengerti sepenuhnya akan ajaran Sang Buddha, yang mengatakan bahwa segala sesuatunya tidak ada yang kekal, hanya bersifat sementara. Karena tidak ada yang mau, maka Raja menyediakan imbalan bagi siapa saja yang bersedia melaksanakan perin-tah itu. Akhirnya ada seorang yang bersedia melakukannya. Dengan diiringi tangisan rakyat Taksasila, mata yang pertama dikeluarkan. Kemu-dian Kunala meletakkan mata itu diatas tangannya dan berkata "Apakah benda yang nampak didepanmu ini, apakah hanya seperti bola kecil itu atau segumpal daging belaka?" Bagaimana manusia dapat menipu dirinya sendiri, bagaimana mereka dapat melakukan semua kebodohan dan bangga akan kebodohan tersebut, dengan berkata "Inilah aku". Dan ketika mata keduanya dikeluarkan, ia berkata kembali,"mata ini, sangat sulit untuk mempe-rolehnya kembali, tapi dengan kejadian ini, saya telah memperoleh kesempurnaan, kesempurnaan dan kebijak-sanaan. Raja telah menghukum saya, namun saya tetap menjunjung tinggi kebenaran Raja yang agung ".

Suatu ketika, Pangeran Kunala mengetahui bahwa semua ini atas permintaan Ratu, bukan Raja Asoka, lalu ia berkata : "Biarkanlah ia menikmati kebahagiaan, kehi-dupan , dan kekuasaan yang juga telah memberi saya kesejahteraan yang tak terhingga". Selanjutnya, Kunala pergi meninggakan kota Taksasila, kembali ke Pataliputra, untuk menemui istrinya Kenca-nanala. Sepanjang jalan dia selalu bernyanyi sambil memainkan kecapi atau vina. saat Kunala tiba, dia memainkan kecapinya di-depan istana. Ketika dia sedang menyanyi, Raja mendengar suaranya dan segera memanggilnya, tapi melihat orang buta berdiri dihadapannya, Raja tidak dapat mengenalinya. Akhir-nya, semua perbuatan dan dendam Ratu terungkap. Raja merasa sangat sedih dan dengan penuh kemurkaan, ia menjatuhkan hukuman mati dengan siksaan yang tajam. Pangeran mempunyai sifat yang sangat pemurah dan penuh kesabaran, sehingga iapun memohon pengam-punan bagi ratu. Pangeran Kunala bersujud dihadapan Raja sambil berkata:"Oh Raja, saya tidak mendendam sedikitpun, saya tidak marah, kendati kejadian ini tidak benar, hatiku dipenuhi cintakasih kepada ibuku yang telah memberi perintah untuk mengeluarkan mata saya"."Tidaklah pantas untuk membunuhnya hanya karena kejadian ini. Dengan penuh hormat, kabulkanlah permin-taanku ini dan jangan membunuhnya, tak ada pahala yang lebih tinggi selain melakukan perbuatan baik, Kesabaran merupakan salah satu perbuatan yang paling terpuji". Keyakinan atas kalimat ini, akan mengem-balikan mataku seperti sedia kala. Kemudian, berkat keyaki-nan akan kebenaran yang timbul (Satyakriya), ia mendapatkan matanya kem-bali. Dalam narasi diatas, jelas bahwa kemurahan hati dan cinta kasih kepada musuh kita merupakan sifat yang sangat mulia. Orang yang bijaksana, tidak membenci kepada apapun dan siapapun yang berbuat jahat kepadanya. Dia membiarkan perbuatan baik melingkupi segalanya untuk merubah perbuatan yang jahat menjadi baik.

"Apapun dapat membuat-ku menderita dan apapun dapat membuatku bahagia, seperti itu pula saya, baik dalam kebahagiaan maupun kesedihan, saya tidak akan tergoyahkan, demikian pula dengan segala kehormatan dan penghianatan." Seperti halnya sang Buddha, seperti memaafkan seorang pria yang diutus untuk membunuhnya, bahkan menyambutnya dengan keramah-tamahan.