SAPI JINAK DAN SAPI BODOH


Berbohong untuk hal yang positif atau baik, sebenarnya mengan-dung arti untuk menghibur, memberi dorongan, mengarahkan. Sebagai contoh seperti anak kecil kalau tidak bernapsu makan, orang tua akan berkata : anak manis, cepat makan ! nanti setelah makan akan diberikan permen. Anak kecil itu akan cepat-cepat makan dengan lahap dan setelah selesai makan, ia telah lupa akan permennya karena sudah kenyang. Orang tua sering mendidik anaknya dengan cara demikian. Namun semua itu juga harus disertai dengan kata-kata yang bisa diterima, harus secara lembut, dan enak didengar.
Pada zaman dahulu kala ada 2 ekor sapi, masing-masing menarik sebuah kereta. Sapi pertama berjalan dengan cepat, sapi yang kedua berjalan dengan lambat.
Ada kejadian apakah gerangan ? Semua ini disebabkan karena pengendali yang berbeda. Sapi yang pertama berjalan dengan cepat karena tuannya berkata dengan manis terhadapnya, katanya : "Sapi saya yang jinak, kamu adalah jantung hatiku, kamu adalah sapi yang terbaik dan terpandai. Berpaculah dengan cepat dan semakin cepat, setelah sampai ditujuan, saya akan memberi kamu makanan yang enak, rumput yang segar dan gandum yang gurih . Apabila sapi tersebut sudah lelah dan berhenti, tuannya akan berkata : Saya tidak percaya bahwa kemampuanmu hanya sebegitu, tenagamu paling besar. Kamu adalah sapi yang terkenal diseluruh dunia, dan sapi yang paling saya suka dan saya sayangi. Kemudian sapi itupun menarik kembali dengan sepenuh tenaga.

Sedangkan kereta sapi yang kedua, yang berada dibelakangnya lain lagi; tuannya selalu marah-marah : Sapi bodoh, sapi malas, sapi jahat ! selalu berhenti, sebentar buang air kecil, sebentar buang air besar, sapi tidak becus ! Nanti sesampainya ditujuan, kamu akan saya jual saja! Kalau berhenti lagi, akan saya sembelih saja ! Sapi ini berpikir , cepat atau lambat akhirnya pasti akan mati juga biarlah malas sekalian, sehingga akhirnya sapi itu berjongkok dan tidak mau melanjutkan perjalanannya.
Demikianlah, kita harus selalu berkata dengan kata-kata yang baik, lembut, halus, indah, dan enak didengar, walaupun terhadap binatang. Jangan berbicara dengan disertai emosi, sehingga kalimat yang diucapkan akan, kasar, keras bisa menyinggung perasaan orang lain. .Selain terhadap sesama manusia, terhadap binatangpun kita harus melakukan hal yang sama, karena binatang juga mempunyai naluri ingin disayang, ingin dipuji, walaupun secara keseluruhannya tidak sama persis seperti manusia, karena karma yang membuatnya berbeda. Sering kali bila kita berkata dengan lembut, baik, ternyata disambut dengan kalimat yang tidak baik, kasar, dan tidak enak didengar. Hal ini mungkin terjadi karena akibat dari karma yang kita lakukan. Untuk itu jangan kemarahan itu dibalas dengan kemarahan, balaslah kemarahan itu dengan kelembutan dan kesabaran, lama kelamaan kemarahan itu pasti akan surut kembali.