Sop Ginseng

 

Pada zaman dahulu kala. di negara Korea ada sepasang suami istri dengan ayahnya yang tua serta seorang putra yang berumur 7 tahun. Mereka hidup rukun dalam satu keluarga. Walau bukan kelu-arga yang kaya, namun mereka hidup berkecukupan dan bahagia.Pada suatu hari, ayahnya yang sudah tua itu jatuh sakit. Berbagai cara dan usaha telah ditempuh, namun kesem-buhan tidak kunjung tiba.Mereka marasa putus asa dan patah semangat. Seperti Pepatah mengatakan : "Bila sakit berlarut-larut tidak ada anak yang berbakti". Wanita muda teringat semasa kecil. dan apabila terjadi sesuatu, dirumah sering melihat Mama meminta pemberkahan dengan sembahyang. Seha-ru.snya ia memohon perlin-dungan Bodhisattva Avaloki-tesvara. Dengan cepat Ia bersujud dan memohon pengampunan serta perlin-dungan dari Sang Buddha dan Avalokitesvara Bodhisattva (Kwan im) yang selama ini telah mereka abaikan. Dengan tekad dan ketekunan, mereka berdoa siang dan malam sampai hari yang keseratus. Sewaktu sang istri sedang mempersiapkan maka-nan untuk suaminya, tiba-tiba diluar terdengar ketukan pintu. Ketika dibuka, ternyata yang datang adalah seorang Bhiksu tua. Dengan penuh hormat, ia mempersilahkan Bhiksu tua itu masuk dan mempersembahkan makanan yang ada ditangannya. Setelah masuk kedalam, Bhiksu tua menyapa, "Keliha-lannya anda sangai murung, ada persoalan apa yang menimpamu? Dengan sedih, wanita muda menceritakan keadaan mertuanya yang tidak diketahui sebab muse-babnya, seluruh harta benda telah habis digunakan untuk mengobatinya. Dengan terharu, Bhiksu tua berkata: "Saya mempunyai satu cara, tetapi..............."Bhiksu yang mulia, cara apakah gera-ngan?" Dengan penuh harapan dan gelisah, dia bertanya. "Tetapi ......... tidak mungkin engkau dapat melakukannya!"

Dengan penasaran, sedih, dan perasaan yang ber-campur baur, ia mendesak dan berkata, "Syarat apapun dapat kulaksanakan asalkan dapat menyembuhkan pe­nyakil mertuaku!" Bhiksu tuapun berkata, "Telah lama saya mendengar nama harum keluargamu yang terkenal karena bakti kepada orang tua, tetapi untuk syarat ini, tidak semua orang dapat melakukannya. Dengan ragu-ragu, Bhik­su meneruskan perkataannya, "Hanya ada satu cara yang dapat menyembuhkan penyakil mertuamu yaitu dengan memasak tubuh putramu dan meminum kuahnya". Penyakit mertuamu yaitu dengan memasak tubuh putramu dan meminum kuahnya". "Apa....? Masakan kuah dari tubuh putraku? Bhiksu itu tidak meng-hiraukan ekspresi wajah wanita yang pucat pasi itu, bahkan ia beranjak pergi sambil berkata, "malam ini harus dilaksanakan!" Kemu-dian iapun menghilang. Wanita muda itu hampir pingsan mendengar syarat yang diajukan Bhiksu tersebut, begitu berat syarat yang diajukan, begitu berat pengorbanan yang harus dilakukan, memilih mertua atau putra satu-satunya?. Ia merenung menatap makanan yang ditinggal pergi oleh Bhiksu Tua itu. Tak terasa, setelah berselang beberapa jam, ia baru menyadari dan dengan segera ia berkemas untuk mengantar makanan untuk suaminya yang di ladang.

Sementara itu, karena terlalu lama menunggu dan mengira telah terjadi sesuatu. akhirnya suaminya cepat-cepat pulang kerumah. Diper-tengahan jalan, ia berpapasan dengan istrinya yang pucat pasi. ia sangat terkejut lagi setelah mendengar tutur istrinya. Istrinya yang berbudi luhur dan bijaksana itu, akhirnya malah menghibur suaminya sambil berkata " Ayah hanya satu-satunya sedangkan anak bisa dilahir-kan kembali, toh kita masih muda". Mendengar tutur istrinya, dengan penuh haru mereka pulang . Sesampainya di rumah mereka melihat anaknya telah tertidur pulas diatas meja.

Kemudian mereka mulai memotong kayu dan mendi-dihkan air. Setelah mendidih. anaknya dimasukkan ke dalam kuali dan airnya disuguhkan pada ayahnya. Dalam keadaan setengah sadar, ayahnya meminum kuah sop itu dengan lahap bahkan rnemuji akan kesegaran dan wanginya sop tersebut. Dengan ber-linang air mata, suami istri tersebut masuk kekamar. Keesokan harinya, me-reka melihat ayahnya itu telah sehat kembali, bagaikan tidak pernah terjadi sesuatu apapun pada dirinya. Dengan perasaan gembira, mereka menyambut kesembuhan ayahnya. Telapi bila teringat akan anaknya, mereka sedih sekali, dan menangis tersedu-sedu. Pada saat itu, diluar Istrinya yang berbudi luhur dan bijaksana itu, akhirnya malah menghibur suaminya sambil berkata " Ayah hanya satu-satunya sedangkan anak bisa dilahirkan kembali, toh kita masih muda". Terdengar suara panggilan "ma-ma" dan muncul seorang anak kecil didepan pintu sambil berkata : "mama. Papa, maafkan saya! Karena kemarin malam tidak pulang kerumah, malam sudah terlalu Iarut sedangkan masih ada pekerjaan sekolah yang belum selesai, terpaksa guru mengajari saya semalaman sehingga saya tidur diru-mahnya. Suami istri itu sangat terkejut, "bukankah kemarin ......................" Melihat kenyataan bahwa anak mereka ada didepan mata. mereka tidak dapat melanjutkan perkataan. Melihat ekspresi orang tuanya yang penuh ketakutan, anak itu berlulut dan memohon maaf sekali lagi. Pada saat itu mereka pada bingung tidak mengetahui apa yang mesti diperbuat, tiba-tiba. dari luar muncul kembali Bhiksu tua yang datang kemarin sambil berkata, karena baktimu pada orang tua telah menggugah perasaan Bodhisattva Avalokitesvara. Yang engkau masak kemarin itu, bukan anakmu melainkan ginseng jelmaan dari Bodhisattva Avalokitesvara.

Kemudian dengan berlari kearah dapur dan melihat kedalam kuali. tenyata benar-benar ginseng. Secepat nya mereka keluar kembali untuk menemui Bhiksu tua, namun beliau telah pergi. Lalu mcrcka segera bersujud dengan penuh taat kepada Avalokitesvara Bodhisattva.